Pagi ini, saya membuka email, ada email Clara Agusta di MIlis pasar buku yang berbunyi
Pada rabu malam sekira 22.30, telah wafat KH Zainal Arifin Thoha di RS
PKU Muhammadiyah Yogyakarta karena serangan jantung. Beliau adalah
salah satu dari sekian penyair yang hidup dari menulis, mengajar, dan
mendirikan pesantren kepenulisan di Krapyak Jogjakarta.
Ia
dengan sekuat-kuatnya mendidik anak-anak muda untuk mau menulis dan
menulis dan menulis; sekaligus ia juga telaten melatih para muridnya
itu mencintai kematian sehingga selain rutin melakukan pengajian
tasawuf, pesantren ini punya tradisi melakukan muhasabah di pelataran
kuburan.
Di kalangan penyair, Gus Zainal seangkatan dengan Hamdy Salad, Abidah, Jokpin, Kuswaedi Syafe'i, sejumlah penyair lainnya.
Gus, akhirnya engkau Zainal bisa tenang di dalam buku abadi. Ajaran dan
petuah-petuahmu akan selalu dikenang oleh murid-muridmu.
Saya shock! Langsung saya guncang-guncang tubuh suami saya, "Mas! Mas! Zainal Mas!"
Bersama-sama kami meneliti email tsb. Benar! Ada dua email tentang meninggalnya Zainal ini.
Saya mencoba telpon ke Hp Hamdy Salad tetapi, belum nyambung.
Mas Ali tampak istighfar berkali-kali.
Zainal, kami mengenalnya dalam ajang lomba baca puisi di kampus. Saya,
Mas ali dan Otto Sukatno Cr sebagi juri. Sedang Zainal adalah
Mahasiswa baru yang menjadi peserta baca puisi.
Kemudian ketemu lagi ketika dia masuk mendaftar sebagai anggota baru di Teater Eska.
penampilannya sudah nyeniman sekali waktu itu. Tetapi memang biasanya yang
nyeniman gitu yang awet keanggotaannya di dunia teater. Karena kalo tak
nyeniman berati bakat aktingnya dipertanyakan. hahaha
Memang
nyenimannya
Zainal, bukan tak menghasilkan. Dalam kurun setahun, dia sudah
mendirikan teater sendiri di Fakultas Dakwah dengan nama Teater Cordova.
Dan namanya terus muncul di koran-koran baik berupa cerpen, puisi maupun essay budaya.
Zainal dan kami akhirnya memang akrab. Bersama Joni Aryadinata, Mathori
A Elwa, dan suami saya mereka sering berkumpul sekedar ngopi-ngopi.. Apalagi kemudian, dia dan Maya, isterinya sering
datang juga ke rumah saya karena rumah kontrakan kita berdekatan.
Zainal dengan vespanya menjadi sangat khas. HP motorolla pertama dia,
sayalah yang mewarisinya. Ketika kami sekeluarga hendak
berangkat ke Montreal, Zainal dan isterinya ikut kumpul-kumpul dirumah kontrakan
saya.
Taun 2004, saya kembali ke Indonesia untuk Riset. Sempat ketemu Zainal
di Sanggar Eska. Sudah menjadi dosen, orang-orang memanggilnya Kyai,
sudah punya pesantren (tak seperti penyair Asep Zam Zam Noor yang
enggan mengikuti jejak ayahnya yang kyai, Zainal nampaknya merasa wajib
untuk mewarisi jalan yang ditempuh ayahnya dan tentu saja sosok Zainal
beserta ilmu yang dimilikinya memang sangat kwalified untuk dipanggil
Kyai ) dan datang ke kampus
memakai topi hajji.
Masih dengan vespanya. masih suka tertawa-tawa dan bercerita
macam-macam dan bertanya ini itu tentang keluarga saya.
Saya tak menyangka. Itulah pertemuan terakhir saya dengan Zainal.
Selamat jalan
Zainal!
Semoga kau bahagia di sana. Aku yakin ilmu yang kau tularkan menjadi
amal jariah karena puisi-puisi, cerpen, essay dan juga pengajian dengan
santri2mu itu telah sedemikian mencerahkan.
Salam
Lbb dan Aly
*PS* Setelah Lutfi, isteri Kajey Habib yang meninggal tahun lalu, kini
kami harus kehilangan teman baik lagi. keduanya umurnya sama-sama
dibawah saya.
Terakhir ketemu Luthfi pada tahun 2004. Dia sempat meminta saya nginep
di rumahnya tetapi saya memilih nginap di rumah Aning dengan
pertimbangan Aning masih single lebih mudah untuk direpoti.
ah Luthfi, kalu seandainya saya tahu...
Semoga kau juga bahagia disana.
*
Poto diambil dari MPnya
Epri
Zainal dalam acara peluncuran antologi Puisi untuk korban gempa di Yogya -updated_
Koran Kedaulatan Rakyat mengabrakan meninggalnya Zainal di Dengan judul
Penyair Sufi itu telah Tiada.